Selasa, 26 Mei 2020

Pernikahan

Banyak yang bicara jika pernikahan begitu mempesona. Melalui hampir 24 jam sehari bersama-sama, bukan hanya satu minggu atau satu bulan, tetapi hingga maut memisahkan. Bersama dengan seseorang yang begitu dicintai dan diingini.

Bahagia bukan? Melihat dan mendengar cerita-cerita banyak orang yang bahagia dengan kelanjutan hidupnya. Namun ceritaku tak seindah cerita mereka. Kebahagiaan tak dapat kurasakan, karena nyatanya aku tergolek lemas ditengah kebimbangan. Aku harus mencintai idealisku atau berdamai kemudian menerima seseorang lain?

Sulit memang untuk pergi jauh dari dua kemungkinan itu. Tak ada lagi jalan tengah, aku sedang berdiri dipertengahan itu. Apakah semua orang mengalami ini ketika menginjak 23 tahun? Atau hanya aku yang merasakan demikian karena prinsip dan keyakinan murahanku? Andai semudah itu membolak balikkan perasaan seseorang, maka aku yakin tak akan pernah ku sia-sia kan.

Kedua kemungkinan itu memiliki resiko yang benar. Resiko yang tak mungkin tak terbayangkan. Inilah yang menyebabkan aku masih di persimpangan. Tak pernah tahu bagaimana harus melangkah, mungkin ku takut? Atau mungkin ku tak siap?

Ketika idealis yang ku pilih, sampai kapan aku bertahan di ruang seperti ini? Datang diacuhkan menghilang, sebuah pola yang tergambar cukup lama. Masalah yang diselesaikan dengan teka-teki, tak pernah terlahir dari mulut pasti. Ketika ini yang ku ambil, apakah aku sanggup ketika di usia tuaku nanti aku melihat kau bahagia dengan pilihanmu? Dengan pasangan dan bayi-bayi kecil yang selalu bersamamu? Karena sejak awal ku pilih idealisku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah mendapatkanmu. Terlalu jauh menggapaimu, terlalu banyak rintangan yang harus di hadapi. 

Tapi jika aku bersama yang lain, apa mungkin kebahagiaanku sama seperti kebahagiaan bersamamu? Apakah mungkin seseorang baru itu telah menjadi kebahagiaan baru untukku dan membuatku melupakanmu? Aku rasa tidak. Aku tak akan bisa melupakan, sekeras apapun ku mencoba, aku tak pernah mampu melepaskan wajahmu dalam mimpi masa depanku. 

Kemudian setelah berdialog seperti ini ku pahami satu hal. Bahwa sedari dulu aku berada dalam pemikiran idealisku, pemikiran yang mementingkan siapa yang kucinta dan hadir disekitarku bukan siapa yang tak kuinginkan menemani kecewaku. Hari ini ku berjanji, kelak ketika aku memiliki pasangan baru, saat itu pula aku telah melupakan segala hal tentangmu. Dan ketika aku belum menemukan pasangan baru, mungkin saja kesempatan kembalimu dapat dipakai semampumu. Sebisa dirimu kembali dan melihat aku, bahwa aku adalah wanita yang amat nyata menginginkanmu mengisi masa depanku.

Kamis, 09 Januari 2020

BAPAK♥️

Ayah..

Ku ingin melihatmu menua dipelukku. Melihatmu tertawa, tersenyum dan bahagia bersamaku yang akan sukses dengan dunia baruku. Ayah, aku ingin bersamamu mengarungi banyak waktu, waktu ku lahir hingga kini, tetap masih kurang untuk ku bunuh bersamamu.

Ayah....

Aku bertanya-tanya. Akankah kelak ketika jodohku datang, akankah kau yang menjabat tangan laki-laki itu? Akankah aku mampu melihatmu menangis bahagia bercampur kehilangan saat itu? Ayah ku mohon, kau pelindungku, sayap-sayapmu menemaniku dan menyelamatkanku, apakah kau masih ada ketika ia yang meminangku datang? Kau harus ada, lihat ia, apakah ia yang terbaik untukku atau bukan.

Ayah...

Aku ingin meminta maaf. Di usia senjamu aku masih saja menyusahkan. Aku masih saja meminta banyak hal. Aku masih saja menyusahkan disaat teman-temanku sudah mampu mandiri. Ayah, tunggu aku. Jangan dahulu pergi hingga sukses nanti, aku ingin terus bersamamu. Tak perduli dengan umurmu yang menua, kau tetap dalam pelukanku, ayah.

Ayah...

Lindungi aku, peluk aku, cium aku seperti dahulu. Aku rindu berdua bersamamu, membunuh banyak waktu, berbicara tentang kegusaranku. Ayah, aku begitu tkut melihat dunia nyataku siang ini, aku begitu takut dengan kesendirianku. Ayah kau tak akan meninggalkan ku sendiri bukan? Ayah jawab aku! Aku tak ingin berdiri sendiri tanpamu.


Mungkin aku tak memanggilku dengan sebutan ayah. Aku memanggil mu dengn sebutan bapak. Kelak, ketika kau menemukan tulisan ini, percayalah Pak, aku mencintaimu namun tak berani berkata itu.