Bahagia bukan? Melihat dan mendengar cerita-cerita banyak orang yang bahagia dengan kelanjutan hidupnya. Namun ceritaku tak seindah cerita mereka. Kebahagiaan tak dapat kurasakan, karena nyatanya aku tergolek lemas ditengah kebimbangan. Aku harus mencintai idealisku atau berdamai kemudian menerima seseorang lain?
Sulit memang untuk pergi jauh dari dua kemungkinan itu. Tak ada lagi jalan tengah, aku sedang berdiri dipertengahan itu. Apakah semua orang mengalami ini ketika menginjak 23 tahun? Atau hanya aku yang merasakan demikian karena prinsip dan keyakinan murahanku? Andai semudah itu membolak balikkan perasaan seseorang, maka aku yakin tak akan pernah ku sia-sia kan.
Kedua kemungkinan itu memiliki resiko yang benar. Resiko yang tak mungkin tak terbayangkan. Inilah yang menyebabkan aku masih di persimpangan. Tak pernah tahu bagaimana harus melangkah, mungkin ku takut? Atau mungkin ku tak siap?
Ketika idealis yang ku pilih, sampai kapan aku bertahan di ruang seperti ini? Datang diacuhkan menghilang, sebuah pola yang tergambar cukup lama. Masalah yang diselesaikan dengan teka-teki, tak pernah terlahir dari mulut pasti. Ketika ini yang ku ambil, apakah aku sanggup ketika di usia tuaku nanti aku melihat kau bahagia dengan pilihanmu? Dengan pasangan dan bayi-bayi kecil yang selalu bersamamu? Karena sejak awal ku pilih idealisku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah mendapatkanmu. Terlalu jauh menggapaimu, terlalu banyak rintangan yang harus di hadapi.
Tapi jika aku bersama yang lain, apa mungkin kebahagiaanku sama seperti kebahagiaan bersamamu? Apakah mungkin seseorang baru itu telah menjadi kebahagiaan baru untukku dan membuatku melupakanmu? Aku rasa tidak. Aku tak akan bisa melupakan, sekeras apapun ku mencoba, aku tak pernah mampu melepaskan wajahmu dalam mimpi masa depanku.
Kemudian setelah berdialog seperti ini ku pahami satu hal. Bahwa sedari dulu aku berada dalam pemikiran idealisku, pemikiran yang mementingkan siapa yang kucinta dan hadir disekitarku bukan siapa yang tak kuinginkan menemani kecewaku. Hari ini ku berjanji, kelak ketika aku memiliki pasangan baru, saat itu pula aku telah melupakan segala hal tentangmu. Dan ketika aku belum menemukan pasangan baru, mungkin saja kesempatan kembalimu dapat dipakai semampumu. Sebisa dirimu kembali dan melihat aku, bahwa aku adalah wanita yang amat nyata menginginkanmu mengisi masa depanku.