Ku ingin melihatmu menua dipelukku. Melihatmu tertawa, tersenyum dan bahagia bersamaku yang akan sukses dengan dunia baruku. Ayah, aku ingin bersamamu mengarungi banyak waktu, waktu ku lahir hingga kini, tetap masih kurang untuk ku bunuh bersamamu.
Ayah....
Aku bertanya-tanya. Akankah kelak ketika jodohku datang, akankah kau yang menjabat tangan laki-laki itu? Akankah aku mampu melihatmu menangis bahagia bercampur kehilangan saat itu? Ayah ku mohon, kau pelindungku, sayap-sayapmu menemaniku dan menyelamatkanku, apakah kau masih ada ketika ia yang meminangku datang? Kau harus ada, lihat ia, apakah ia yang terbaik untukku atau bukan.
Ayah...
Aku ingin meminta maaf. Di usia senjamu aku masih saja menyusahkan. Aku masih saja meminta banyak hal. Aku masih saja menyusahkan disaat teman-temanku sudah mampu mandiri. Ayah, tunggu aku. Jangan dahulu pergi hingga sukses nanti, aku ingin terus bersamamu. Tak perduli dengan umurmu yang menua, kau tetap dalam pelukanku, ayah.
Ayah...
Lindungi aku, peluk aku, cium aku seperti dahulu. Aku rindu berdua bersamamu, membunuh banyak waktu, berbicara tentang kegusaranku. Ayah, aku begitu tkut melihat dunia nyataku siang ini, aku begitu takut dengan kesendirianku. Ayah kau tak akan meninggalkan ku sendiri bukan? Ayah jawab aku! Aku tak ingin berdiri sendiri tanpamu.
Mungkin aku tak memanggilku dengan sebutan ayah. Aku memanggil mu dengn sebutan bapak. Kelak, ketika kau menemukan tulisan ini, percayalah Pak, aku mencintaimu namun tak berani berkata itu.