Selasa, 03 Desember 2019

Thankyou for 2 years...

Teruntukmu yang telah bersamaku dua tahun ini....

Hai, kau? Aku tak perlu bertanya padamu apakah kau baik-baik saja bukan? Dan kau tak perlu bertanya padaku juga karena hari-hariku masih dipenuhi namamu.

Hai sayang. Mungkin kau lupa, bulan ini, ku kenal kau pertama kali dua tahun lalu. Perkenalan, perjalanan, telah membawa kita hingga saat ini, sampai aku mampu menulis tulisan ini untukmu.

Dan akhir bulan ini dua tahun lalu, kau bicara bahwa kau mencintaiku. Begitu indah bukan? Mendengarkan kata-kata syahdu yang keluar darimu yang ku candu. Aku, menjadi wanita terbahagia saat itu, saat ketika tanganmu mampu kuraih dengan jemariku pertama kali.

Aku tahu, perjalanan ini begitu sulit. Aku pernah merasakan betapa sulitnya mencinta sendirian. Aku tahu, sebebas apa kita hingga akhirnya kita lebih fokus bergelut pada lingkungan kita masing-masing, bahkan dengan pendamping masing-masing. Aku tak pernah mengenal lingkunganmu, kau pun acuh dengan lingkunganku, kita seperti sepasang roda, memiliki cyrcle yang tak pernah sama.

Sudah, lupakan. Itu cerita kelam yang aku paham telah kau kuburkan. Tapi aku menganggap itu perjuangan, ketika menatap perjuangan aku paham bahwa aku telah berjuang. Bersamamu bukan hanya kebahagiaan, aku pernah melewati banyak rintangan.

Perjalanan selanjutnya memang terlampau panjang. Aku tak tahu sampai kapan takdir Tuhan. Tapi, disisa takdirku, ku ingin bahagia bersamamu, melewati detik demi detik dengan tawa, bukan lagi air mata. Hingga nanti ketika waktu nya tiba, biarkan aku pergi tanpa air mata.

Aku tak tahu rencana Tuhan. Aku tak tahu perjalanan panjang yang Tuhan inginkan. Entah menjadi sepasang, atau pergi dengan tujuan-tujuan. Yang jelas, terima kasih pernah menetap, menyembuhkan hatiku yang tersiksa dengan kesalahan. Aku mencintaimu, mencintai perjalanan ini. Dan jangan pernah tanya kapan ku berhenti mencintaimu, karena ku rasa itu tak akan mungkin.

Sabtu, 12 Oktober 2019

Ibu dan anaknya

Tadi banget, naik salah satu transportasi masal di Jakarta. Ternyata, hidup gue terlalu flat sampe gue ga paham dengan banyak kehidupan sosial yang menurut gue, itu ngasih banyak pembelajaran. Seperti anggapan kalo gue gak mau melakukan hal itu dan lain sebagainya.

Gue liat ada seorang anak dengan rambut keriting, duduk sama seorang wanita muda yang sepertinya ibunya. Hal yang bikin gue meratiin anak itu karena dia main sendiri, mengimajinasikan perjalanan itu sementara ibunya tidur dengan nutupin wajah pake selendang yang dia bawa. Lalu, ibunya kebangun dan ya udah cuma diem aja, ga nanya sesuatu ke anaknya dan lain sebagainya yang menurut gue lumrah buat seorang ibu berlaku kaya gitu. Sampe saatnya anak itu cuma megang tangan ibunya dan langsung dihempas dengan kasar. Gue kaget ngeliatnya, anaknya juga kaget dan langsung diem merapat kepojokan. Ibunya dengan wajah jutek tetep ngeliat ke arah depan, sementara anaknya ngelirik ibunya dengan wajah takut. Dan gue yang nonton pemandangan itu jadi ngerasa sedih.

Setelah itu, selama hampir sepuluh menit, anak itu tetep ngelirik ibunya dengan takut dan gak berani ngedeket sementara ibunya cuma ngeliat ke arah depan. Asli hati gue keiris liat seorang anak diperlakuin kaya gitu. Gue emang gatau sebenernya apa yang terjadi. Mungkin aja ibunya lagi banyak beban fikiran ataupun mungkin anaknya bandel. Tapi gue ga tega liat seorang anak bisa ngelirik ibunya dengan tatapan takut kaya gitu. Ga tau kenapa gue jadi sedih aja.

Pas mau turun dari bispun juga gitu. Karena anaknya naikin kaki di atas bangku, sendal yang dia pake di lepas. Pas ada pemberitahuan kalo mereka udah sampe halte yang mereka tuju, ibunya tiba-tiba langsung diri aja dan ngajak buat turun sementara anaknya belum siap-siap dan bilang "lagian sih bukan pake sendalnya dari tadi". Apa anak umur 5/6 tahun tahu mereka bakal turun di mana saat naik bis? Menurut gue lebih baik lagi jika ibunya ngasih tau dari awal dan juga jangan buat anak di marahin di depan banyak orang. Mungkin, ini hanyalah persepsi gue, yang belum punya anak dan juga hanya ngeliat permasalahan dari satu kejadian.

Gue harap mentalnya gak terganggu, dia tetep jadi anak yang kuat karena harus menghadapi ibu yang mungkin tidak seperti anak-anak lain. Padahal kalo gue liat, anaknya ganteng, bersih dan rapih. Ya mungkin ibunya cuma mau tegas dan disiplin aja kali ya, kan cara pola asuh orang tua berbeda. Mungkin sih ya.