Hai, kau? Aku tak perlu bertanya padamu apakah kau baik-baik saja bukan? Dan kau tak perlu bertanya padaku juga karena hari-hariku masih dipenuhi namamu.
Hai sayang. Mungkin kau lupa, bulan ini, ku kenal kau pertama kali dua tahun lalu. Perkenalan, perjalanan, telah membawa kita hingga saat ini, sampai aku mampu menulis tulisan ini untukmu.
Dan akhir bulan ini dua tahun lalu, kau bicara bahwa kau mencintaiku. Begitu indah bukan? Mendengarkan kata-kata syahdu yang keluar darimu yang ku candu. Aku, menjadi wanita terbahagia saat itu, saat ketika tanganmu mampu kuraih dengan jemariku pertama kali.
Aku tahu, perjalanan ini begitu sulit. Aku pernah merasakan betapa sulitnya mencinta sendirian. Aku tahu, sebebas apa kita hingga akhirnya kita lebih fokus bergelut pada lingkungan kita masing-masing, bahkan dengan pendamping masing-masing. Aku tak pernah mengenal lingkunganmu, kau pun acuh dengan lingkunganku, kita seperti sepasang roda, memiliki cyrcle yang tak pernah sama.
Sudah, lupakan. Itu cerita kelam yang aku paham telah kau kuburkan. Tapi aku menganggap itu perjuangan, ketika menatap perjuangan aku paham bahwa aku telah berjuang. Bersamamu bukan hanya kebahagiaan, aku pernah melewati banyak rintangan.
Perjalanan selanjutnya memang terlampau panjang. Aku tak tahu sampai kapan takdir Tuhan. Tapi, disisa takdirku, ku ingin bahagia bersamamu, melewati detik demi detik dengan tawa, bukan lagi air mata. Hingga nanti ketika waktu nya tiba, biarkan aku pergi tanpa air mata.
Aku tak tahu rencana Tuhan. Aku tak tahu perjalanan panjang yang Tuhan inginkan. Entah menjadi sepasang, atau pergi dengan tujuan-tujuan. Yang jelas, terima kasih pernah menetap, menyembuhkan hatiku yang tersiksa dengan kesalahan. Aku mencintaimu, mencintai perjalanan ini. Dan jangan pernah tanya kapan ku berhenti mencintaimu, karena ku rasa itu tak akan mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar