Kamis, 11 Juni 2015

About Believe and Pressure

12 Juni 2015.
hai juni. sudah bulan juni dan saat ini sekitar 3 bulan lagi perkuliahan di mulai. yap biasalah yang namanya anak baru lulus, mencari jalan terbaik dari apa yang terbaik ya kan? hahaha buat temen temen SMK TELKOM SANDHY PUTRA JAKARTA yang udah kerja, yg rajin kerjanya, yang bahagia, ku relakan kau membeli mobil terlebih dahulu wkakak inget temen ya gaji pertama mah wkakak. buat anak anak yang kuliah juga yang sudah menemukan dambaan hatinya juga selamat dan sukses mengenyam pendidikan kembali, semoga lulus dalam waktu 4 tahun ya wkak, gamau jadi mahasiswa abadi kan? kalo mahasiswa abadi mah lama-lama jadi mahasisa wkak.
SBMPTN. 9 Juni kemarin gue ngelaksanain sbmptn. gampang, gampang banget wkakak orang gue aja isinya ngasal wkakak. gue sih lebih yakin buat ga diterima, kenapa? karena... gini. kan benar +4 salah -1 ga dijawab 0. nah yang gue gatau gue jawab aja asal wkakak. sekarang gini, kalo emang gue niat gue gausah isi aja kan? jadi ketauan dey kalo udah ga niat wkakak. kemarin di sbmptn gue ambil UI-Statistika, Unpad-Statistika-Teknik Elektro. untuk statistika UI dan Teknik Elektro Unpad, itu termasuk prodi baru yang baru saja dibuka tahun ini jadi menurut orang peluangnya lebih besar. kalo statistikanya unpad mah jangan ditanya, passing grade aja nyampe 50% kurang dikit. hopeless bgt pokoknya udah gausah berharap. bukannya gue patah semangat karena gue yakin ga keterima, tapi lebih kepada gue memang dari awal usah gaada kepengenan untuk di UI atau di unpad.
SIMAK. 14 juni nanti gue bakal menghadapi SIMAK UI. beh uang pendaftarannya aja 350k (gue ambil 3 prodi) . Statistika, teknik geologi, teknik elektro. sebenernya dari prospek kerja bagusan teknik geologi, tapi hanya saja... kembali lagi teknik geologi di UI merupakan prodi baru zzzz. mungkin orang lain akan melihat gue keren karena bisa masuk universitas sekelas Universitas Indonesia, tapi inget, sebuah prodi/jurusan bakal membawa namanya sendiri tanpa melibatkan nama universitas untuk menentukan kualitas. bukan tidak percaya dengan UI. gue yakin jurusan UI gaakan ada yang ragukan, hanya saja, gue butuh akreditasi dan pengalaman alumni untuk menjadi bahan pertimbangan selanjutnya. UI bagus dengan dosen-dosen yang mumpuni, tapi akreditasi dan alumni di jurusan statistika atau teknik geologi (gue maunya cuma di dua jurusan itu, teknik elektro cuma coba-coba) belum ada.
STTN. sudah berapa kali gue sebut sekolah ini di dalam postingan blog?. cinta dan hati ku tinggal disana. SekolahTinggiTeknologiNuklir. prodi yang hanya ada 3 di Indonesia. UGM, ITB (baru), serta STTN-BATAN. jika UGM dan ITB hanya berfokus pada teknik nuklir, STTN membaginya kembali menjadi tiga yang meliputi:
1. Teknokimia (TKN)
2. Elektronika Instrumensasi (Elin)
3. Elektronika Mekanik (Elmek)
dan alhamdulillah, dengan jalur prestasi berbekal sertifikat OlimpiadeSainsTerapanNasional untuk bidang matematika teknik yang cuma selingkup jakarta barat, gue bisa tembus di jurusan yang menurut gue paling kece, paling macho, ya ELEKTRONIKA MEKANIK (ELMEK). pilihan pertama yang langsung tembus. Alhamdulillah. apalagi nama gue terpampang jelas di nomer 1 dipaling atas dan dengan berat hati gue harus merelakan yang sudah ditangan pergi.
lo tau apa rasanya keyakinan? apa rasanya saat lo punya jalan hidup dan ini jalan hidup lo selanjutnya, lo pernah ngerasain? lo pernah ngerasain bangga karena masuk ke salah satu keluarga yang besar dan terkemuka? pernah? iyaa itu yang gue rasain. gue yakin sepenuh hati sepenuh cinta kasih bahwa gue menentukan nuklir untuk menjadi jalan hidup gue, yap entah kenapa hati gabisa berbohong, yang gue mau hanya dia, yang gue butuh hanya dia. sukses itu bukan karena gue berada dimana, tapi seberapa inginnya gue berada. dengan kata lain, percuma saja lu berada di UI kalo hati lu adanya di STTN gabakal masuk otak dan gabakal lu ikhlas dengan keadaaan.
IKHLAS? jika gue ga dapet dan akhirnya gue gadapet boleh dikatakan ikhlas. tapi saat gue menolak, apa itu harus dinamakan ikhlas? gue harus nolak sesuatu hal yang seharusnya ga gue  tolak, apa itu pantas gue lakukan? saat cinta dan keyakinan semua terpaku pada satu tempat, dan harus ku putar hanya karena penolakan, apa ini adil? apa pernah mereka dengar, apa yang gue mau, apa yang gue butuh dan apa yang gue mampu?. menurut survey gue, masuk STTN juga ga mahal malah dapat di golongkan murah, kenapa? STTN itu semesterannya sekitar 3 juta (kalo gaslaah kurang dari 3 juta) sementara PTN harus melihat dari keluarga dengan range sekitar 100k-7,5juta. enak kalo kebagian yang murah, kalo dapetnya yang mahal, mau ngomong apa?.
AWAL. perkenalan gue dengan STTN itu diawali dengan persentasi kaka kelas gue yang udah lebih dahulu di STTN. namanya Ka Latif. dia persentasi STTN dengan menurut gue kece banget, pembicaranya juga meskipun bukan anak telkom tapi dia membawakan dengan baik, formal dan menurut gue berpendidikan. sangat berpendidikan malah. melihat sisi lain dari nuklir yang menurut gue beh keren. orang cuma tau kejelekan nuklir doang sih jadinya gatau kalo nuklir banyak yang mempergunakan. bahagianya masuk sana, itu pikiran gue. mau bermimpi buat masuk sana juga malu, kenapa? karena gue sadar, gue dibawah ka latif dan ka latif pinter banget dan yasudah pesimis duluan. sampe saatnya khamid ngajakin gue masuk sana, yaudah sekalian coba coba ajadeh mau masuk sana, kirain bisa keterima. izin sama ortu dulu yang penting. setiap gue mau daptar apaapa gue selalu izin, meskipun gue tau gue gabakal dapet apa yang gue inginkan dari mulut mereka. gue izin sama ibu gue dan boleh. gue berpidato panjang lebar didepan ayah gue ampe mulut gue berbusa untuk mendapatkan izin, berbicara secara diplomasi untuk mensetani ayah gue dan berhasil. dia cuma nanya, kosan disana berapa makan berapa dan biaya pendidikan berapa, dan yap alhamdulillah berhasil membujuk untuk memperbolehkan gue. gue langsung buat surat-surat yang wajib buat dikirim kesana yang harus di ttd sama sekolahan. dan itu terbengkalai lama cuma karena gue bingung bikin esay yang berjudul "motivasi masuk STTN". hingga saat gue lagi memikirkan membuat itu, ada keluarga gue yang tidak memperbolehkan gue untuk melanjutkan kesana yang langsung berbicara dengan ibu gue dan alhasil yap alhasil gue gaboleh ikut pendaftaran. rasa bingung, marah, semua jadi satu dihati. kenapa? karena gue ngerasa ini jalur hidup gue.
gue tetep lanjutin pendaftaran karena gue penasaran, karena semua dokumen sudah lengkap, tinggal surat motivasi aja yang belum selesai. dan H-3 kalo gasalah sebelum pendaftaran ditutup, gue mampu menyelesaikan dan langsung gue kirim, berikut dengan bukti transfer 100k yang udah gue setor dari atm paginya. cukup murah kalo dibandingin sama SIMAK UI dan sebanding sama SBMPTN harganya. dan H-1 sebelum pendaftaran di tutup, paket jne yang gue kirimkan mendarat mulus di Jl.Babarsari, Yogyakarta. gue pake paket YES (Yakin Esok Sampai) dan alhamdulillah paketnya ga pake delay. kemudian tanggal 9 april sebelum UN. gue keterima dan yasudah gue nangis kejer disekolah. temen2 gue banyak yang selamat in gue, apa yang selamat? bangku kosong satu yang otomatis bisa buat orang lain untuk masuk?
dan yasudah, ibu gue tetep beri keyakinan untuk menunggu SNMPTN,Statistika IPB yang gue pilih. sampe saatnya gue tau kalo statistikanya IPB itu terbaik se asia tenggara. ada kesempatan? entahlah. udah pasrah meskipun gue pegang sertifikat OSTN. dan akhirnya, yap akhirnya gue ga bisaa masuk sana juga. kecewa? pasti. karena apa yang sudah ada di tangan gue lepas dengan menunggu yang tidak pasti. marah? iya. karena yang ga ngebolehin gue (termasuk ayah ibu gue) diem aja tanpa komentar apaapa. kemana kalian yang menyuarakan suara paling lantang saat gue milih sekolah? kemana? sampe saatnya, gue yang harus ngelanjutin perjuangan gue sendiri, gue yang harus ngelanjutin hidup gue sendiri. bener kata orang, kita gabakal tau mana yang namanya temen mana yang namanya musuh sebelum kita terjatuh. saat itu semua orang pada diem, gaada yang punya solusi diantara itu. gaada satupun yang punya solusi buat gue.
gue baru sadar, semua orang mampu mengasihani orang, monyet pun mampu mengasihani, tapi yang harus melanjutkan perjalanan itu ya gue yang harus bertanggungjawab atas semuanya itu gue, orang lain cm bisa berbicara, dan semuanya perlu gue yang berjuang, mereka cuma bisa berbicara dengan lantang dan jelas dengan nada menekan dan saya yang harus maju sendiri dan saat saya terjatuh saya sendiri pula.
dan akhirnya gue harus bertanggungjawab dengan apa yang sebenernya gue gamau. gaakan ada hal yang seperti ini saat apa yang gue mau diizinkan. gaada tetesan tetesan air mata yang ngegenang di setiap hari-hari gue, gaada rasa penyesalan dalam hari gue, gaada rasa pesimis di hati gaakan ada jika semuanya kembali ke gue, jika semuanya sesuai apa yang gue inginkan, ga perlu ada penyesalan karena itu bagian dari tanggungjawab gue terhadap diri dan terhadap uang yang dikeluarkan ayah gue. gaakan ada rasa penyesalan rasa takut dan rasa ingin yang memuncak menjadi satu. kalian cuma bisa berbicara tapi masa depan hanya untuk gue saja, hidup gue masa depan ditangan gue, sampe saatnya yang terjadi adalah, gue ga mampu menentukan jalan gue, gue gamampu melanjutkan apa yang gue ingin dan sampe saatnya sekarang sudah terlambat, ibu gue aja bahkan menyesali semua yang dilakukannya dan baru mengizinkan gue kesana. kembali lagi, percuma masuk di universitas terkemuka kalau cinta dan keinginan tertinggal di tempat lain. karena ini masalah hati. ya ini masalah hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar